Sabtu, 31 Oktober 2009

Masih ada

Tak pernah mau ku mendugakan, dan kupaksa otak untuk tidak memikirkan..selama selang waktu itu, hingga hari itu di tengah siang yang cukup panas, di sebuah perempatan jalan, ku rogoh saku celena jeans yang ku kenakan, dari dalamnya ku keluarkan barang elektronik kecil yang menghantarkan pesan, menanyakan kabarku...
Teramat yakin ku ketika itu, bahwa itu pesan dari mu, tapi sekali lagi, tak ingin ku simpan harap, ku untai kalimat tanya sebagai balasannya, siapakah??? Dan aku memang tidak salah, kembali dengan gayamu kau jawab pesan singkatku, kau sok bermisteri, tapi tidak di hatiku..aku sangat tahu, kalau pemilik pesan itu adalah dirimu, walau deretan angka di layar monitor kecil itu tak memberi informasi tentangmu, angka itu samasekali baru bagiku..tapi kali ini aku masih ingin menyakinkan diri, kuuntai kata tanya lagi, sambil otakku tersenyum kecil, bahagia, menyakini bahwa itu dirimu..
Dan..tak berhenti disitu, esoknya kau masih menghubungi, dengan rasa lebih bersahabat..tapi sejak setelahnya ku sangat ingin katakan kekecewaan, hanya kecewa, bukan penyesalan, karena aku orang yang tak ingin menyesal juga disesali..
Kecewaku...kenapa aku masih berinvestasi kepercayaan untukmu?? setelah semuanya???
Harusnya kupetik hikmah dari semua yang pernah terjadi..tapi ternyata ketika itu pohon hikmah terasa enggan berbuah, sehingga tak ada yang bisa ku petik...
hahahaha...saat ini aku tertawa, bertaruh pada sang penguasa bumi, berharap pada pemilik kehidupan, kalau kau akan kembali menghubungi...
Hahahaha itu nadaku...mungkin akan sama dengan nadamu, tapi tentunya kau tidak berisi harap..tapi berisi ejekan, dengan kata atau lirikan kau akan ujarkan tawa kemenangan akan kebodohanku...
tapi taukah kau, dan mau kah kau percaya..aku bodoh karena dirimu..
Masih ada harap itu di hatiku....Semoga
Read More..

Sebuah Harap

Kapan sedih bisa terkatakan??
Kapan kecewa bisa disuarakan...??
Ketika dunia semakin tidak peduli..
Ketika penguasa bumi ikut tak didekati
Aku takut mengatakan...kalau saat ini penguasa bumi mulai membenci..
aku terlalu takut
Akhirnya.....
Teriakan itu ku tahan, tubuh ku sungkurkan, kaki ku tekuk, aku bersujud dan..
memohon ampun
Lancang aku masih bertanya, akankah bisikku di dengar? akankah tetes airmata kan di ganti dengan bayangan surga..
Aku masih punya harap
Sangat ku harap..

Read More..

Senin, 26 Januari 2009

Enigma Kehidupan

Aku tidak bermaksud begitu, benar-benar tidak ada alasan ku untuk melakukannya, aku hanya ingin kau tidak menggagu mereka, yah bunga2 itu terlalu indah kalau harus hancur karena kaisan kaki mu, aku benar-benar tidak bermaksud, mungkin lemparan ku memang terlalu mengagetkan mu, tapi itu sudah ku perhitungkan itu tidak akan membuat mu luka, makanya aku tidak melempar kearah mu, aku melempar kepot bunga lainnya, tujuan ku hanya satu, kau menjauh dari pot bunga ku, tidak lagi mengaisnya, dan aku tidak pernah berfikir dan membayangkan kalau semua akan jadi seperti itu. Saat itu kulihat kau begitu riangnya membawa main anak-anak mu yang masih terlalu muda disekitar pot bungaku, suaramu riang memanggil mereka, kaki mu begitu lincah mengaiskan tanah disekitar, untuk memilih remah alam yang bisa mengenyangkan anak-anakmu, dan anak-anakmu begitu bersemanagatnya mengumpulkan remah alam itu, seakan tidak ingin ada buliran yang terbuang, dan tertinggal, aku tidak melarang itu, aku hanya mau kau tidak melakukannya di sekitar taman bungaku, makanya dengan maksud mengusir aku lemparkan batu kecil, agar kau menghindar, tapi ternyata lemparanku terlalu mengangetkan, kau melompat sangat cepat, mungkin bermaksud melindungi anak-anakmu, tapi sungguh aku nggak menduga akan seperti itu, sebuah pot jatuh mungkin karena terkena terjangan mu, dan kaki kecil anakmu tidak cukup kuat untuk berlari, menghindar, dan nggak ada juga yang bisa ku perbuat, kau pun tidak, dia tertimpa sangat keras, dan bersama kita melihat dia terkapar disitu, aku mendekat, kau tidak lakukan apa-apa, dengan sedikit tergesa kau panggil anak-anak mu yang lain, menjauh…tinggal aku sekarang, dengan anakmu yang sekarang sudah tidak bernyawa, aku terdiam, semuanya begitu cepatIngatanku melompat ke taraumatik yang dicerikatan oleh Jostein Gaarder dalam bukunya yang berjudul maya, tokoh aku yang trauma gara-gara melihat seekor anak rusa mati, disebuah hutan kecil dibelakang rumahnya, tokoh aku kemudian harus sering merasa ketakutan yang berlebihan akan kondisi yang mengancam, aku yakin diriku dan kamu saat ini aku tidak akan sampai pada apa yang harus dialami oleh tokoh itu, aku merasa tidak ada alasan yang kemudian membuat ku harus mengalami trauma.
Yang ada dalam pikirku sekarang ketika tangan-tanganku berbenah mengumpulkan serakan tanah akibat pot bunga yang pecah, dan bermaksud menyingkirkan anak ayam yang memang sudah tak benyawa lagi, aku memutuskan untuk menguburkanya dari lahan yang agak jauh dari deretan pot bungaku, sambil berjalan, menuju tempat dimana aku ingin menguburkan anak ayam ini, mataku menyapu berkeliling, mencari mu yang sekarang aku nggak tau dimana, suara mu pun tidak lagi ku dengar, mungkin kamu sudah sibuk dengan kaisan yang lain, untuk membantu mencari makan untuk anak-anak mu yang lain juga, aku tidak menemukan mu.
Begitu sederhananya semua ini terjadi, suara yang tadi riang ku dengar dari anak ayam yang sekarang ku kuburkan tidak lagi terdengar, hanya dalam hitungan yang entah mungkin tidak sampai satu detik, siapa yang menduga?? Aku jelas tidak, induk ayam ini tentu juga tidak. Aku kembali ingat bagaimana tadi anak ayam ini bersemangat mematuk ditanah mengumpulkan remah alam, seakan mereka tidak akan pernah lagi menemukannya dilain kesemptan.
Aku jadi ingat spesiesku...kami juga seperti itu, bekerja mengumpulkan resqi setiap waktu, tapi mungkin spesiesku selalu berfikir tentang cara mengumpulkan yang sebanyak-banyaknya, tidak hanya yang untuk dimakan hari itu, sehingga mereka punya tabungan, punya tumpukan harta, dan terkadang karena ingin menumpuknya dan ingin menumpuk sebanyak-banyaknya, mereka lakukan berbagai cara, dan kamu mungkin tidak kan pernah mengerti akan cara-cara yang dilakukan oleh spesiesku ini.
Aku tidak akan trauma dengan kejadian hari ini, tapi kemudian ini membuatku jadi menerawang, membayangkan ini semua terjadi padaku atau pada spesiesku yang lain, aku harus belajar dari semuanya, bahwa apapun yang aku dan mereka usahakan, lakukan sebatas maksimal yang bisa dilakukan, dan jangan pernah menunda untuk nanti, besok dan apalagi lusa, karena tidak pernah ada yang tau bahwa pada saat yang tertunda itu aku, kamu dan yang lainnya masih berkesempatan melakukannya, semuanya begitu sederhana di mata Sang Kuasa, tidak pernah ada yang bisa meramalkan apa yang menjadi kehendakNya semuanya tersimpul dalam untaian enigma, ya Enigma Kehidupan.
Read More..

Rabu, 21 Januari 2009

Ala mereka

Saling genggam
Senyum pun saling berbalasan
Sesekali pipi kanan dan pipi kiri saling menempel
Tangannya berjabat erat
Mata menatap, memberi salam penghormatan
Tidak ada dendam tersirat
Tidak ada bad news yang merendahkan
Tidak ada lagi perdebatan
Tidak ada lagi hujatan
Tidak ada lagi saling ketidakpercayaan
Tidak ada lagi saling meragukan
ya....
Mereka kini saling dukung...
Saling percaya
Saling memberi pengertian
Saling berbagi kesempatan
Itu yang bisa tertangkap dari sebuah pesta inagurasi, ratusan juta pasang mata yang menyaksikan, kemudian menitipkan pengharapan, dan segenap uphoria akan janji sebuah perubahan....yang muda itu kini dipercaya, yang muda itu kini bekerjasama
Aku hanya mencoba membandingkan...di tempatku, dan di tempat tetangggaku apa mungkin seperti itu? apa mungkin setelah semuanya akan ada jabat tangan, akan ada dukungan, akan ada saling mengerti
Saat ini itu hanya ada pada tahap sebuah pengharapan
Ya..
Aku berharap pada inagurasi di negeriku nanti, yang sudah tidak lama lagi, bisa meniru ala mereka, tidak hanya uphoria akan sebuah kebebasan, tapi juga memberi dukungan, tekad bekerja bersama, tanpa ada lagi kepentingan yang kemudian berujung pada tindak saling kangkang, muda dan tua saling bekerjasama, menitipkan rasa percaya
Dalam sebuah keoptimisan, akau percaya semua itu bisa terwujud, karena aku juga tahu, bahwa dinegeriku itu budaya yang bukan baru, sudah terlau usang mungkin, sehingga sekarang terasa lapuk, sehingga harus ada tekad membaharui,
Ya...
Semoga...pada waktunya nanti aku bisa melihat, dan mungkin jutaan pasang matapun akan bisa melihat, dengan kebanggaannya yang sangat luar biasa, bahwa negeriku bisa lebih dibandingkan ala mereka.
Read More..

Selasa, 13 Januari 2009

Kalau kau mengerti

Kalau lembutnya suara bunda di ujung telepon bisa menenangkan
Kalau gelaktawa sahabat bisa menghibur
Kalau air mata bisa mewakili
Kalau diam bisa memberi damai
Kalau berlari bisa membuat jauh
Kalau berhenti bisa menghalangi
Tentu semuanya akan aku pilih
Tapi...
Ternyata semuanya masih menyisakan kegelisahan
Aku masih tak menganggap semuanya adalah jawaban
Karena aku merasa tau apa yang aku tunggu
Atau ??!!
ini hanya kesombonganku
Sehingga aku jadi tidak peduli, aku merasa terbutakan, tepatnya membutakan diri, dalam sebuah masa yang mungkin tak bisa ku mengerti
Apalagi membatasi
Aku tak bisa berhenti dan tidak ingin berhenti
Dalam harap
Masih ku berdo'a semoga Sang Maha Kuasa merahmati dan kaupun kemudian jadi mengerti
Read More..

Minggu, 11 Januari 2009

One stop shopping

ONE STOP SHOPPING...? sengaja aku memberi tanda tanya, apa sih yang aku inginkan, apa yang ku rangkai dalam kata one stop shopping, akau cuman ingin punya pusat perbelanjaan sehingga aku dan mereka bisa berbelanja apa saja dan kapan saja....
wah apakah aku akan membuka pusat perbelanjaan, jelas sebuah ide basi, pemilik modal besar sudah merambah sampai ke pelosok desa, nggak percaya lihat aja di sebuah ibu kota desa sekali pun sekarang circle-K atau K-24 sudah ada, adalagi, seperti, Superindo, alvamart, indomart, atau mart-mart yang lainnya, dan puluhan mal-mal yang sangat memanjakan
sehingga warung soto Pak kumis nggak lagi laku, warung jamu Bu jum sudah nggak ada pengunjung atau toko kelontong milik wak ani sudah tidak rame
trus masih nekad mau mendirikan pusat perbelanjaan dengan modal lokal yang pas-pasan..???
oh...jangan terlalu pesimis
setidaknya dalam rangkaian mimpi yang selalu aku rangkai disaat terjaga, aku masih ingin menciptakan pusat perbelanjaan itu, tapi tidak seperti yang mereka buat, aku hanya ingin punya pusat perbelanjaan ilmu, Yah ONE STOP SHOPPING FOR SCIENCE
Sebuah tempat yang selama ini selama ini selalu ingin ku temui di salah satu sudut negeri ini
aku ingin hadir dan menghadirkan banyak orang dalam sebuah ruang yang di dalamnya mereka berprilaku "konsumtif" untuk ilmu
dengan dan senyaman mereka berebelanja dipusat-pusat belanja yang hari ini selalu jadi tujuan mereka membuang sisa waktu
aku bayangkan tempat itu
seperti sebuah
cafe umumnya...
di cafe itu tidak saja tersaji menu makanan
tapi juga ribuan judul buku, jutaan artikel, yang bisa diakses oleh mereka pengunjung cafe, dilengkapi dengan fasilitas untuk berselancar di dunia maya, pojok sinema, pojok khusus untuk mereka berdiskusi, dan ruang lain untuk mereka berekspresi dengan musik dan bermain dalam games yang mencerdaskan
sehingga mereka bisa perdebatkan segalanya
Aku hanya membayangkan
banyak keluarga datang berkunjung ke sana, mereka pulang dengan membawa buku yang mereka beli, atau mereka cukup pulang dengan senyum puas karena sudah ber window shopping di cafe ilmu...indahnya
Read More..

Jumat, 09 Januari 2009

Untuk Puji

Semoga ...
Semoga kau damai di alamNya
Semoga kau tak menerima azabNya
Semoga kau tenang bersamaNya
Semoga kau terampuni olehNya
Semoga kau mendapat tempat istimewa di sisiNya
Semoga kau dilimpahi syafaat oleh rasulNya
Semoga amalmu di balasi olehNya
Semoga ...
Untuk seorang sahabat yang telah tidak bersama kita

Read More..