Aku tidak bermaksud begitu, benar-benar tidak ada alasan ku untuk melakukannya, aku hanya ingin kau tidak menggagu mereka, yah bunga2 itu terlalu indah kalau harus hancur karena kaisan kaki mu, aku benar-benar tidak bermaksud, mungkin lemparan ku memang terlalu mengagetkan mu, tapi itu sudah ku perhitungkan itu tidak akan membuat mu luka, makanya aku tidak melempar kearah mu, aku melempar kepot bunga lainnya, tujuan ku hanya satu, kau menjauh dari pot bunga ku, tidak lagi mengaisnya, dan aku tidak pernah berfikir dan membayangkan kalau semua akan jadi seperti itu. Saat itu kulihat kau begitu riangnya membawa main anak-anak mu yang masih terlalu muda disekitar pot bungaku, suaramu riang memanggil mereka, kaki mu begitu lincah mengaiskan tanah disekitar, untuk memilih remah alam yang bisa mengenyangkan anak-anakmu, dan anak-anakmu begitu bersemanagatnya mengumpulkan remah alam itu, seakan tidak ingin ada buliran yang terbuang, dan tertinggal, aku tidak melarang itu, aku hanya mau kau tidak melakukannya di sekitar taman bungaku, makanya dengan maksud mengusir aku lemparkan batu kecil, agar kau menghindar, tapi ternyata lemparanku terlalu mengangetkan, kau melompat sangat cepat, mungkin bermaksud melindungi anak-anakmu, tapi sungguh aku nggak menduga akan seperti itu, sebuah pot jatuh mungkin karena terkena terjangan mu, dan kaki kecil anakmu tidak cukup kuat untuk berlari, menghindar, dan nggak ada juga yang bisa ku perbuat, kau pun tidak, dia tertimpa sangat keras, dan bersama kita melihat dia terkapar disitu, aku mendekat, kau tidak lakukan apa-apa, dengan sedikit tergesa kau panggil anak-anak mu yang lain, menjauh…tinggal aku sekarang, dengan anakmu yang sekarang sudah tidak bernyawa, aku terdiam, semuanya begitu cepatIngatanku melompat ke taraumatik yang dicerikatan oleh Jostein Gaarder dalam bukunya yang berjudul maya, tokoh aku yang trauma gara-gara melihat seekor anak rusa mati, disebuah hutan kecil dibelakang rumahnya, tokoh aku kemudian harus sering merasa ketakutan yang berlebihan akan kondisi yang mengancam, aku yakin diriku dan kamu saat ini aku tidak akan sampai pada apa yang harus dialami oleh tokoh itu, aku merasa tidak ada alasan yang kemudian membuat ku harus mengalami trauma.
Yang ada dalam pikirku sekarang ketika tangan-tanganku berbenah mengumpulkan serakan tanah akibat pot bunga yang pecah, dan bermaksud menyingkirkan anak ayam yang memang sudah tak benyawa lagi, aku memutuskan untuk menguburkanya dari lahan yang agak jauh dari deretan pot bungaku, sambil berjalan, menuju tempat dimana aku ingin menguburkan anak ayam ini, mataku menyapu berkeliling, mencari mu yang sekarang aku nggak tau dimana, suara mu pun tidak lagi ku dengar, mungkin kamu sudah sibuk dengan kaisan yang lain, untuk membantu mencari makan untuk anak-anak mu yang lain juga, aku tidak menemukan mu.
Begitu sederhananya semua ini terjadi, suara yang tadi riang ku dengar dari anak ayam yang sekarang ku kuburkan tidak lagi terdengar, hanya dalam hitungan yang entah mungkin tidak sampai satu detik, siapa yang menduga?? Aku jelas tidak, induk ayam ini tentu juga tidak. Aku kembali ingat bagaimana tadi anak ayam ini bersemangat mematuk ditanah mengumpulkan remah alam, seakan mereka tidak akan pernah lagi menemukannya dilain kesemptan.
Aku jadi ingat spesiesku...kami juga seperti itu, bekerja mengumpulkan resqi setiap waktu, tapi mungkin spesiesku selalu berfikir tentang cara mengumpulkan yang sebanyak-banyaknya, tidak hanya yang untuk dimakan hari itu, sehingga mereka punya tabungan, punya tumpukan harta, dan terkadang karena ingin menumpuknya dan ingin menumpuk sebanyak-banyaknya, mereka lakukan berbagai cara, dan kamu mungkin tidak kan pernah mengerti akan cara-cara yang dilakukan oleh spesiesku ini.
Aku tidak akan trauma dengan kejadian hari ini, tapi kemudian ini membuatku jadi menerawang, membayangkan ini semua terjadi padaku atau pada spesiesku yang lain, aku harus belajar dari semuanya, bahwa apapun yang aku dan mereka usahakan, lakukan sebatas maksimal yang bisa dilakukan, dan jangan pernah menunda untuk nanti, besok dan apalagi lusa, karena tidak pernah ada yang tau bahwa pada saat yang tertunda itu aku, kamu dan yang lainnya masih berkesempatan melakukannya, semuanya begitu sederhana di mata Sang Kuasa, tidak pernah ada yang bisa meramalkan apa yang menjadi kehendakNya semuanya tersimpul dalam untaian enigma, ya Enigma Kehidupan.
Read More..